Waspada! Ini Tanda Kamu Terkena Virus HMPV Mirip Covid & Bahayanya

Investigasi Corona Virus di Indonesia. (CNBC Indoensia/Andrean Kristianto)

China lagi-lagi dihebohkan dengan datangnya wabah virus baru. Virus Human Metapneumovirus (HMPV) saat ini tengah mewabah di China dan menyita perhatian internasional dalam beberapa waktu terakhir. Virus ini masuk dalam kategori virus yang menyebar dengan sangat luas dan cepat khususnya di China bagian utara.

Apa itu human metapneumovirus (HMPV)?

Human metapneumovirus (HMPV) adalah virus yang biasanya menyebabkan gejala yang mirip dengan flu biasa. Virus ini sering menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas, tetapi terkadang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan bawah seperti pneumonia, kambuhnya asma atau memperburuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Infeksi HMPV lebih umum terjadi pada musim dingin dan awal musim semi.

Kebanyakan orang tertular HMPV sebelum mereka berusia 5 tahun. Manusia dapat tertular HMPV lagi, tetapi gejalanya biasanya ringan setelah infeksi pertama.

Apakah human metapneumovirus hanya flu biasa?

Human metapneumovirus paling sering menyebabkan gejala yang mirip dengan flu, tetapi beberapa orang bisa sakit parah. Beberapa orang lebih mungkin sakit parah saat pertama kali terinfeksi HMPV, itulah sebabnya anak-anak kecil memiliki risiko lebih besar untuk sakit parah. Orang dewasa berusia di atas 65 tahun dan orang dengan masalah pernapasan atau sistem kekebalan yang lemah juga bisa mengalami gejala parah.

Seberapa umumkah human metapneumovirus?

Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 10% hingga 12% penyakit pernapasan pada anak-anak disebabkan oleh HMPV. Sebagian besar kasusnya ringan, tetapi sekitar 5% hingga 16% anak-anak akan mengalami infeksi saluran pernapasan bawah seperti pneumonia.

Apa saja gejala human metapneumovirus?

Gejala human metapneumovirus meliputi :

– Batuk.
– Demam.
– Hidung berair atau tersumbat.
– Sakit tenggorokan.
– Sesak napas (dispnea).
– Ruam.

Apa yang menyebabkan infeksi human metapneumovirus?

Virus kuman kecil yang menggunakan sel tubuh untuk menggandakan dirinya, menyebabkan HMPV. Virus ini merupakan bagian dari kelompok virus yang sama dengan yang menyebabkan RSV, campak, dan gondongan.

Bagaimana human metapneumovirus ditularkan?

HMPV menyebar melalui kontak langsung dengan penderita atau dari menyentuh benda yang terkontaminasi virus. Misalnya: Batuk dan bersin, Berjabat tangan, berpelukan atau berciuman, Menyentuh permukaan atau benda seperti telepon, gagang pintu, papan ketik, atau mainan.

Apa saja faktor risiko human metapneumovirus?

Siapa pun dapat terinfeksi HMPV, dan dapat berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah jika:

– Berusia di bawah 5 tahun (terutama bayi prematur) atau di atas 65 tahun.
– Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah (akibat kondisi seperti HIV, kanker atau gangguan autoimun, atau akibat obat-obatan yang menekan sistem kekebalan tubuh Anda).
– Menderita asma atau PPOK.

Bagaimana human metapneumovirus diobati?

Tidak ada obat antivirus yang dapat mengobati human metapneumovirus. Kebanyakan orang dapat mengelola gejala mereka di rumah sampai mereka merasa lebih baik.

Namun, jika jika sakitnya parah, sangat memungkin untuk perlu dirawat di rumah sakit. Di sana, penyedia layanan kesehatan dapat memantau kondisi sang pasien dan membantu mencegah pasien bertambah sakit. Tindakan yang akan dilakukan berupa:

– Terapi oksigen. Jika pasien mengalami kesulitan bernapas, penyedia layanan kesehatan dapat memberikan oksigen tambahan melalui selang di hidung atau masker di wajah.

– Cairan infus. Cairan yang disalurkan langsung ke vena (IV) dapat menjaga pasien tetap terhidrasi.

– Kortikosteroid. Steroid dapat mengurangi peradangan dan dapat meredakan beberapa gejala.

https://stityapismkw.ac.id/category/

Batu Tertua Dunia Berisi 10 Perintah Allah, Laku Terjual Rp82 Miliar

Prasasti batu tertua yang memuat Sepuluh Perintah Allah dapat terjual hingga $2 juta dalam lelang pada bulan Desember. (Dok. Sotheby's via CNN Internasional)

Sebuah prasasti batu yang diyakini sebagai salah satu batu tertua di dunia dengan ukiran 10 Perintah Allah dari Perjanjian Lama telah terjual dalam sebuah pelelangan.

Adapun, harga jualnya mencapai US$ 5,04 juta atau sekitar Rp 82,2 miliar, jauh melampaui estimasi awal sebesar US$ 2 juta (Rp 32,6 miliar). Batu tersebut diperkirakan berasal dari 1.500 tahun lalu di era akhir Romawi-Bizantium.

Menurut Sotheby’s yang menggelar pelelangan, pembelinya enggan diungkap identitasnya. Namun, ia berencana untuk mendonasikan batu tersebut ke institusi Israel.

Batu yang menyimpan jejak sejarah dunia purba tersebut sudah dilupakan selama beratus-ratus tahun. Beratnya 115 pon atau sekitar 52 kilogram. Tingginya 2 kaki atau setara 0,6 meter.

Penemuan awalnya pada 1913 saat dilakukan penggalian di jalur kereta api baru wilayah utara yang kini menjadi bagian dari Israel, dikutip dari CNN International, Minggu (5/1/2025).

Batu tersebut ditemukan di dekat situs sinagoge, masjid, dan gereja kuno dan bertuliskan 10 hukum Alkitab dalam aksara Paleo-Ibrani. Meskipun demikian, signifikansi penemuan tersebut tidak sepenuhnya dihargai dan batu tersebut terus digunakan sebagai paving di luar rumah seseorang selama tiga dekade.

Prasasti tersebut ditempatkan menghadap ke atas dan terbuka untuk dilalui banyak pejalan kaki, sehingga tulisannya kian memudar. Beruntung lempengan tersebut secara historis akhirnya diakui dan dilestarikan.

Menurut pernyataan pers oleh Sotheby’s, batu tersebut sempat dijual kepada seorang sarjana pada tahun 1943. Orang yang tidak disebutkan namanya ini sebagai Dasa Titah Samaria yang penting dan memuat ajaran-ajaran ilahi yang menjadi inti dari banyak agama.

Samaritanisme adalah agama monoteistik kuno yang didasarkan pada lima kitab pertama Perjanjian Lama. Meskipun terkait dengan Yudaisme, Samaritanisme menganggap Gunung Gerizim di wilayah Tepi Barat sebagai tempat tinggal Yahweh, bukan Gunung Sion.

Sotheby’s menjelaskan lempengan tersebut awalnya berada kemungkinan besar telah dihancurkan oleh invasi Romawi tahun 400-600 M atau sebagai akibat dari Perang Salib pada akhir abad ke-11.

Dalam klip video pendek tentang penjualan tersebut, rumah lelang tersebut menggambarkan Sepuluh Perintah dalam Kitab Keluaran sebagai “landasan hukum dan moralitas” dan “teks dasar peradaban Barat.”

Batu tersebut menampilkan 20 baris teks, yang mengikuti ayat-ayat dari Alkitab, yang umum dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Namun, hanya sembilan dari 10 perintah dari Kitab Keluaran yang disertakan, yang hilang adalah: “Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.” Sebagai gantinya, ada petunjuk baru untuk beribadah di Gunung Gerizim.

Richard Austin, kepala buku dan manuskrip global Sotheby’s, mengatakan dalam pernyataan pers: “Papan yang luar biasa ini bukan hanya artefak bersejarah yang sangat penting, tetapi juga hubungan nyata dengan kepercayaan yang membantu membentuk peradaban Barat”.

“Menemukan bagian warisan budaya bersama ini berarti melakukan perjalanan melintasi ribuan tahun dan terhubung dengan budaya dan kepercayaan yang diceritakan melalui salah satu kode moral paling awal dan paling abadi dari umat manusia.”

https://stityapima.ac.id/

Geger Penemuan Dunia yang Hilang, Ternyata Lokasinya di RI

Pemandangan di Sumba

Misteri dunia yang hilang menjadi pembahasan menarik bagi sebagian masyarakat. Ternyata ada ‘dunia hilang’ yang ditemukan di wilayah Indonesia. Hal itu terungkap dalam jurnal berjudul ‘Proceedings of the Royal Society B’.

Para ilmuwan mengungkap temuan mengejutkan. Dunia yang hilang tersebut tak lain adalah Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sumba ternyata merupakan habitat beragam hewan yang sebagian sudah punah sejak beribu-ribu tahun yang lalu.

Beberapa hewan punah tersebut adalah gajah mini, spesies tikus, kadal raksasa, sampai spesies komodo. Fosil hewan-hewan tersebut ditemukan di Sumba.

Berdasarkan pengamatan terhadap fosil-fosil yang ditemukan, spesies-spesies tersebut hidup di Sumba sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Bahkan, laporan itu mendapati temuan serius yang memungkinkan bahwa hewan-hewan langka awalnya hidup di wilayah Sumba, dikutip dari Mongabay, Sabtu (3/5/2025).

Hal ini makin meyakinkan ketika ditemukannya fosil komodo yang saat ini hanya bermukim di Pulau Komodo, Flores.

Penemuan itu kemudian memancing asumsi bahwa hewan yang kini termasuk langka itu sebenarnya berasal dari Sumba.

Ekspedisi untuk meneliti hewan-hewan punah ini berlangsung dari 2011 hingga 2014. Tim peneliti berasal dari Zoological Society of London (ZSL).

Mereka mengoleksi fosil dari Sumba, sebagai bagian dari kepulauan yang dulu dinamai ‘Wallacea’.

Nama daerah ini berasal dari ahli biologi Alfred Russel Wallace yang pertama kali memberikan batasan wilayah berdasarkan penyebaran spesies hewan di Indonesia pada abad ke-19.

Wilayah di dalam Wallacea termasuk Sumba, Sulawesi, Lombok, Flores, Halmahera, Buru, dan Seram.

Wilayah Wallacea mendulang popularitas pada 2004, ketika kelompok arkeologi mengumbar fosil makhluk punah yang dinamai ‘hobbit’ atau Homo Floresiensis. Makhluk ini ditemukan di Flores, bagian utara dari Sumba.

Hingga kini, riset tentang Sumba sendiri masih sangat jarang. Survei soal fosil dan kehidupan liar di sana belum terlalu banyak dilakukan.

“Mungkin karena terlalu banyak pulau di Indonesia untuk dipelajari. Masih jarang biologis atau paleontologis yang fokus pada wilayah beragam di Indonesia,” kata Samuel Turvey, anggota peneliti di ZSL.

Para ilmuwan berharap penelitian lebih lanjut di Sumba bisa dilakukan untuk mendapatkan pencerahan soal evolusi spesies di area tersebut.

“Penemuan di area ini bisa membuka wawasan yang menakjubkan soal dunia yang hilang. Ada banyak hewan yang berevolusi di kepulauan Wallacea yang terisolasi namun kemudian punah seiring munculnya peradaban manusia modern,” terang Turvey.

‘Dunia Hilang’ di Spanyol

Tak cuma Indonesia, ada pula ‘dunia hilang’ yang ditemukan di Spanyol. Atlantis yang dikenal sebagai dunia yang hilang berhasil ditemukan melalui sebuah penelitian dari Spanyol.

Peneliti menemukan beberapa pulau yang tenggelam di dekat Kepulauan Canary.

“Ini mungkin asal muasal legenda Atlantis,” kata kepala proyek yang mempelajari aktivitas gunung berapi di Kepulauan Canary, Luis Somoza, dikutip dari Live Science.

Lokasi tersebut, Gunung Los Atlantes adalah serangkaian pulau pada zaman Eocene dari 56 juta hingga 34 juta tahun lalu. Namun gunung telah berhenti meletus dan laharnya memadat, membuat pulau-pulau tenggelam.

Gunung Los Atlantes berada paling timur dari Kepulauan Canary. Pulau berada di gunung bawah laut yang tidak aktif dengan diameter 50 kilometer dan berada di 2,3 km bawah permukaan laut.

“Ini merupakan pulau-pulau di masa lalu dan tenggelam, sekarang masih tenggelam persis seperti yang diceritakan dalam legenda Atlantis,” imbuhnya.

Para peneliti menemukannya saat menjelajahi dasar laut lepas pantai timur Lanzarote. Mereka menggunakan kendaraan yang dikontrol dari jarak jauh (remotely operated vehicle/ROV) pada kedalaman antara 330 hingga 8.200 (100-2.500 meter).

Menurutnya, tim peneliti berhasil menemukan bagian pantai, tebing dan bukit pasir di lokasi tersebut. Pasir yang menutupi batuan vulkanik kemungkinan telah mengendap saat tenggelam.

Para peneliti juga menemukan beberapa pantai tidak tenggelam terlalu dalam. Kedalamannya berkisar 60 meter di bawah permukaan laut.

Mereka juga menemukan gunung berapi tidak aktif dan menjadi pulau saat permukaan air laut rendah saat zaman es terakhir. Sementara saat era tersebut berakhir, pulau akhirnya tenggelam.

“Pulau-pulau ini dihuni oleh para satwa liar,” ucapnya.

Berbagai temuan ‘dunia hilang’ yang dulunya ditinggali spesies punah kini sudah menjadi modern dengan masuknya peradaban teknologi. Temuan-temuan ini mengungkap sejarah perkembangan Bumi dan makhluk yang ada di dalamnya, sehingga bisa lebih mengenal planet tempat kita hidup. Semoga informasi ini bermanfaat!

Togel Online

Bank DKI Akhirnya Dapat Restu untuk IPO

Ilustrasi ATM Bank DKI. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

PT Bank DKI telah mendapatkan lampu hijau untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal itu disetujui dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) bank pembangunan daerah (BPD) itu, yang digelar pada Rabu (30/4/2025) lalu.

RUPST itu juga memberikan kewenangan kepada Direksi dan Dewan Komisaris Bank DKI untuk segala penyesuaian dan persiapan yang diperlukan untuk melaksanakan rencana IPO. Itu termasuk melakukan kajian secara komprehensif, dengan tetap memperhatikan kondisi perekonomian domestik maupun global, kondisi pasar saham di BEI.

Dalam RUPST tersebut, disepakati pula penambahan Modal Ditempatkan/Disetor Bank DKI sebesar jumlah yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan Tahun Anggaran 2024 (APBD), yang berasal dari kredit Hapus Buku eks BPPN dengan total Rp2,19 miliar sebagai setoran modal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada bank itu.

Dengan penambahan Modal Ditempatkan/Disetor tersebut, maka Modal Ditempatkan/ Disetor Perseroan akan berubah dari semula sebesar Rp6.58 triliun menjadi Rp6.58 triliun, dan sisanya sebesar Rp 760,17 ribu dibukukan dalam Cadangan Umum Perseroan.

Sementara itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menyatakan belum menerima pengajuan IPO Bank DKI. Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan pihaknya senantiasa mendorong bank untuk terus memberikan nilai tambah strategis bagi seluruh stakeholders dan mendukung pendalaman pasar keuangan, salah satunya dengan melakukan penawaran umum perdana saham guna memperkuat permodalan dalam rangka pertumbuhan bisnis, meningkatkan transparansi dan tata kelola dengan status perusahaan terbuka.

“OJK akan mendorong semua BPD untuk bisa IPO ataupun menerbitkan obligasi,” ujar Dian dalam keterangannya, dikutip Jumat (2/5/2025).

Akan tetapi, ia melanjutkan dalam rangka suksesnya IPO tersebut dan perlindungan terhadap investor, seluruh BPD akan diarahkan untuk memenuhi prasyarat mendasar. Antara lain, disiplin fiskal pemerintah daerah, profesionalisme, tata kelola, rentabilitas dari bank, dan rating yang baik dari lembaga pemeringkat yang kredibel.

Terpisah, Staf Khusus Gubernur Wakil Gubernur DKI Jakarta, Cyril Raoul Hakim mengatakan Bank DKI itu harus melakukan bertransformasi sepenuhnya terlebih dahulu IPO. Ia enggan memberitahu target realisasi rencana tersebut, namun berharap dapat dilaksanakan dalam 6 bulan ke depan.

kas138

Tabrakan Dahsyat di Luar Angkasa, NASA Beberkan Fakta Kiamat

Konsep artistik tahun 2018 menunjukkan wahana antariksa Parker Solar Probe terbang ke atmosfer luar Matahari, yang disebut korona, dalam misi untuk membantu para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang Matahari. (via REUTERS/NASA/Johns Hopkins APL/Steve Gri)

Sebuah pengamatan dari Tekeskop Luar Angkasa James Webb Space milik NASA memperlihatkan akhir hayat dari sebuah planet. Temuan tersebut juga membantah penelitian sejumlah astronom di masa lalu.

Saat itu, para astronom menyebut kematian planet karena bintang yang membengkak menjadi raksasa merah. Namun temuan terbaru menyebutkan planet yang mendatangi bintang tersebut bukan sebaliknya.

James Webb berhasil mengamati tabrakan planet dengan bintang yang menjadi pusat tata surya nya. Bintang yang diamati itu berjarak 12 ribu tahun cahaya dari Bumi, berada di galaksi Bima, ke arah konstelasi Aquila.

Reuters mencatat bintang itu sedikit lebih merah. Bentuknya juga berbeda dengan Matahari, yakni kurang bercahaya dengan massa hanya 70% saja.

Sementara planet yang hancur itu berukuran cukup besar. Ukurannya beberapa kali dari massa Jupiter.

Dalam dokumentasi James Webb memperlihatkan gas panas membentuk cincin di sekitar bintang. Debu dingin terlihat juga mengembang dan menyelimutinya.

“Kita tahu ada sejumlah material dari bintang yang keluar saat planet hancur total. Bukti setelahnya adalah material sisa berdebu yang dikeluarkan dari bintang induknya,” jelas astronom Noirlab, Ryan Lau, dikutip dari Reuters, Senin (14/3/2025).

Para peneliti berhasil menemukan hipotesis akhir hayat planet. Disebutkan orbit planet terus memburuk karena adanya interaksi gravitasi dengan planetnya.

“Planet mulai menyerempet atmosfer bintang. Angin sakal yang menghantam bintang mengambil alih dan planet semakin cepat ke bintang,” kata rekan penulis studi Morgan MacLeod.

Dia menambahkan planet semakin lama masuk ke dalam bintang. Lapisan luar gasnya juga terkelupas.

“Benturan itu memanas dan mengeluarkan gas bintang, memunculkan cahaya yang dilihat dan gas, debu dan molekul yang mengelilingi bintang,” jelasnya.

kas138

Daftar Pekerjaan Paling Kebal PHK Saat Ekonomi Gonjang-Ganjing

Sejumlah pekerja menyantap makan siang di pusat kuliner di kawasan Jakarta, Jumat (6/9/2024). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

World Bank (Bank Dunia) memperkirakan geliat ekonomi global akan suram pada tahun ini. Bank Dunia, dalam laporan Regional Economic Update 2025, memproyeksikan pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik akan melambat ke angka 4% pada 2025, turun 1% dibandingkan realisasi 5% pada 2024.

Di tengah kondisi ekonomi yang suram, profesi atau pekerjaan yang paling aman dan tahan resesi adalah yang berkaitan dengan barang dan jasa penting, seperti layanan kesehatan dan bahan makanan, kata Cory Stahle, ekonom di situs lowongan kerja Indeed.

Di bidang kesehatan, beberapa pekerjaan yang lebih stabil dan diminati adalah perawat, dokter umum, ahli bedah, dan terapis, yang mengalami lonjakan permintaan pasien selama pandemi, kata Stahle kepada CNBC Make It.

Sementara itu, pekerja ritel akan dibutuhkan di supermarket dan tempat lain yang menjual barang kebutuhan pokok, termasuk kasir, petugas stok bahan makanan, orang yang memuat dan menurunkan truk, serta pekerja rantai pasokan dan logistik, katanya.

“Anda mungkin harus mengubah jenis makanan yang Anda makan, tetapi Anda tidak akan berhenti makan,” ujarnya.

Sementara itu, beberapa “pekerjaan yang kurang stabil” di pasar tenaga kerja saat ini lebih banyak melibatkan pekerja kerah putih yang ahli, termasuk pengembangan perangkat lunak atau software developer dan pemasaran atau marketing, kata Stahle.

Meski begitu, jenis industri tempat Anda bekerja juga sangat berpengaruh. Seorang software developer yang bekerja untuk perusahaan teknologi mungkin merasa lebih tidak aman pekerjaannya daripada software developer yang bekerja di rumah sakit, misalnya.

Bagi para pencari kerja atau mereka yang memiliki pekerjaan yang rentan terhadap resesi, Stahle mengimbau agar memiliki strategi jangka panjang karena karir bukanlah hal yang Anda bangun hanya dalam satu atau dua tahun.

Dia menyarankan agar para pekerja fokus pada skill mereka dan menempatkan diri pada posisi yang baik, tidak peduli industri apa yang mereka geluti, dan apakah ada resesi atau tidak.

Misalnya, meski saat ini sudah era AI, banyak pengusaha masih sangat membutuhkan pekerja dengan keterampilan komputer dasar, kata Stahle, seperti mampu membuat dan menavigasi spreadsheet atau berkomunikasi secara efektif melalui email.

“Menjaga agar pekerjaan Anda tidak terkena PHK” mungkin tidak sepenuhnya mungkin, kata Stahle, tetapi “mampu mengembangkan keterampilan Anda” dapat meminimalkan dampak gangguan pasar kerja dan membantu Anda menemukan pekerjaan lain lebih cepat jika diperlukan.

kas138

Warga Arab Kompak Pergi ke RI Cari Tanaman yang Disebut di Al-Quran

Daun pohon Kamper. (Dok. Lindungihutan)

Indonesia terkenal kaya terhadap sumber daya alamnya. Selain rempah-rempah, ternyata ada satu jenis tanaman yang diburu warga Arab karena khasiatnya tercantum dalam kitab suci umat muslim, Al-Quran.

Dalam Surat Al-Insan ayat ke-5, Allah berjanji kepada “orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) bercampur air kafur”. Para ulama menginterpretasi air kafur adalah air tanaman kamper atau kapur barus.

Jangan membayangkan kamper yang dimaksud adalah pewangi berbentuk kecil yang biasa dikenal sekarang. Benda yang saat ini dikenal adalah hasil sintesis kimia dari Naphtalene (C10H8).

Sedangkan, kamper yang disebut di Al-Quran adalah tanaman populer di Arab bernama Latin Dryobalanops aromatica. Tanaman ini punya ciri khas sangat wangi dan memang bisa diminum sebab menyehatkan tubuh.

Hanya saja, masyarakat Arab tak mudah memperolehnya sebab bukan tanaman asli di sana. Alhasil, mereka harus mencari pusat tanaman kamper dan singkat cerita membawa para pedagang ke wilayah antahberantah di bumi bagian Timur. Kini, wilayah tak dikenal itu disebut sebagai Indonesia.

Pusat Tanaman Kamper

Arkeolog Edward Mc. Kinnon dalam Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013) menyebut, adanya jalinan perdagangan membuat orang Arab lambat laun mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatera. Secara spesifik, lokasinya berada di Fansur atau kini disebut Barus.

Para pedagang Arab berulangkali menyebut Barus sebagai pelabuhan penting yang mengangkut komoditas, salah satunya, adalah kamper.

Pedagang Arab, Ibn Al-Faqih, misalnya, pada tahun 902 sudah menyebut Fansur sebagai wilayah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Lalu ahli geografi Ibn Sa’id al Magribi yang hidup di abad ke-13 juga merinci secara spesifik bahwa Fansur penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatera. Bahkan, jika ditarik mundur lebih jauh, ahli Romawi, Ptolemy, sudah menyebut nama Barus pada abad ke-1 Masehi.

Atas dasar ini, banyak warga Arab, khususnya para pedagang, berbondong-bondong ke Sumatera. Mereka rela melakukan pelayaran jauh dari Arab untuk mendapatkan kamper. Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menyebut, orang Arab tiba di Barus melalui perjalanan langsung dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Pantai Barat Sumatera.

Mereka biasa membawa kapal besar untuk mengangkut banyak kapur barus yang akan dijual tinggi di pasar internasional. Perlahan, kedatangan orang Arab ke Sumatera makin tinggi usai kamper asal Barus jadi yang bermutu tinggi mengalahkan kamper asal Malaya dan Kalimantan.

Pada titik inilah, Barus terbukti sebagai daerah penghasil kamper dan sudah berkembang jadi pelabuhan penting di Sumatera.

Muncul Agama Islam

Terungkapnya lokasi kapur barus di Indonesia membuat banyak pedagang Arab mengunjungi Barus untuk singgah hingga menetap. Jika mereka pergi ke China, maka pasti akan singgah dulu di Barus. Hanya saja, kedatangan mereka tak cuma bermotif perdagangan, tetapi juga turut menyebarkan agama Islam.

Alhasil, terjadi Islamisasi terhadap penduduk lokal di tempat-tempat kedatangan kapal Arab, yakni Barus (Fansur), Thobri (Lamri), dan Haru. Jejak awal Islam sudah masuk Barus diduga kuat tercatat pada abad ke-7 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus. Di sana tertera nisan yang berasal dari abad ke-7 M.

Dari sini, muncul satu teori kedatangan Islam di Indonesia, yang tentu masih menimbulkan perdebatan. Namun, tak melupakan fakta bahwa lambat laun terjadi proses penyebaran Islam di sana.

Terlepas dari kebenaran teori tersebut, pedagang-pedagang Muslim di Barus berhasil membentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia Arab dengan Indonesia dan membuat Tanah Air sudah terkenal sejak dahulu kala.

RI Tangkap Tuna Pakai Cara Tradisional, Ternyata Ini Alasannya

Pacific bluefin tuna heads sit waiting to be autopsied by NOAA biologists at their facilities in Jolla, California, U.S. October 3, 2018. Picture taken October 3, 2018. REUTERS/Mike Blake

Indonesia kini kembali menggunakan teknik tradisional untuk menangkap tuna, yakni dengan pancing ulur. Apakah ini berarti ada kemunduran dalam dunia perikanan nasional?


Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Trian Yunanda menjelaskan, pergeseran alat tangkap dari longline ke pancing ulur bukanlah suatu kemunduran, melainkan langkah strategis untuk memaksimalkan nilai ekonomi hasil tangkapan.


“Nggak kemunduran. Jadi 752 ribu ton, kalau kita lihat ekspor kita, ekspor kita itu di 278 ribu ton ikan tuna. Dengan nilai yang US$1,03 miliar. Artinya, masih ada sekitar 500 ribu ton lagi. Itu yang dimanfaatkan oleh mungkin di antaranya adalah nelayan-nelayan kecil. Nelayan-nelayan kecil itu antara lain menangkap tuna umumnya menggunakan pancing ulur,” ungkap Trian dalam Bincang Bahari KKP, Rabu (30/4/2025).

Menurutnya, perhatian pemerintah kini adalah bagaimana meningkatkan nilai jual hasil tangkapan para nelayan kecil ini. Salah satu caranya adalah dengan melakukan sertifikasi produk, seperti Marine Stewardship Council (MSC) dan Fairtrade, yang diakui secara internasional.


“Dulu, salah satu usaha kita mensertifikasi mereka (nelayan kecil). Salah satu MSC sertifikat, ini pengakuan ekolabel tingkat internasional, itu diakui nelayan-nelayan kecil di Pulau Buru (Maluku). Itu Indonesia pertama kali. Itu bagaimana kita meningkatkan itu,” jelasnya.


Ia menambahkan, penggunaan pancing ulur justru menghasilkan tuna berkualitas premium, yang punya nilai jual jauh lebih tinggi.


“Dengan menggunakan pancing ulur, justru sebetulnya hasilnya bisa sangat premium sekali. Nah ini pemerintah bagaimana kemudian melakukan sertifikasi kepada mereka, agar produk mereka bisa betul-betul diakui,” katanya.


Upaya ini juga sejalan dengan program-program pemerintah seperti kampung nelayan modern, penguatan kelembagaan nelayan, hingga koperasi Desa Merah Putih. Semua diarahkan untuk memperkuat posisi nelayan kecil di pasar global.


Trian bahkan menceritakan pengalamannya sendiri melihat produk Indonesia di pasar dunia.


“Itu produk-produk Fairtrade MSC itu dilihat, saya sendiri datang ke Swiss. Kita lihat di situ barcode-nya itu dari mana nangkepnya? Dari Pulau Buru. Kan kita bangga seharusnya,” ucap dia.


Jadi, penggunaan pancing ulur ini bukan sekadar soal alat tangkap, tapi soal strategi besar untuk menaikkan kesejahteraan nelayan dan menjaga kualitas ikan Indonesia.


Senada dengan Trian, Sekretaris Jenderal Asosiasi Tuna Indonesia (ASTUIN) Muhammad Billahmar mengungkapkan, pergeseran alat tangkap ini juga berkaitan erat dengan faktor ekonomi.


“Ya, terkait berkembangnya alat tangkap, atau bergesernya alat tangkap tuna dari longline ke pancing ulur. Jadi dipengaruhi oleh berbagai hal. Ya, kata kuncinya itu kan bahwa pengusaha itu harus untung dalam bisnis. Dia sudah investasi di kapal, hasilnya siapa yang mau terjun untuk rugi,” ujar Billahmar dalam kesempatan yang sama.


Ia menyebut, masalah pada alat tangkap jenis longline bukan hanya terjadi di Indonesia. Bahkan Jepang yang punya kapal-kapal modern pun kini mengalami kelesuan di sektor longline.


“Masalah longline bukan cuma di Indonesia. Jepang juga yang banyak menguasai tuna dengan kapal-kapal yang lebih modern, yang besar, jadi juga sekarang agak lesu. Sebagian kapal longline malah sudah ditawarkan untuk dijual,” katanya.


Sementara di Indonesia, pengusaha memilih mengganti alat tangkap ketimbang menjual kapalnya.


“Di kita tidak jual kapal, tapi alat tangkap yang berganti. Dan tuna bisa kita manfaatkan,” kata dia.


Menurutnya, pancing ulur kini lebih menguntungkan dibanding longline. Dimana biaya operasional jauh lebih rendah, sementara hasil tangkapan tetap maksimal.


“Memang kalau dikatakan mundur dari sisi teknologi, iya. Tapi kaitannya dengan biaya operasi tadi saya bilang ya, bahwa kita dulu longline, kapal yang sebesar longline itu sekarang ada yang berganti ke pancing ulur. Longline sudah tidak menguntungkan. Tinggal beberapa kapal yang masih bisa bertahan,” ungkapnya.


Ia menjelaskan, penggunaan pancing ulur jauh lebih efisien karena tidak perlu membuang ribuan umpan untuk mendapatkan sedikit hasil.


“Dia tujuannya tidak berburu kemana-mana lah. Datang aja ke titik yang sudah disiapkan untuk mengumpulkan ikan di situ. Ya, tinggal memancing di situ. Jadi tidak banyak pergerakan, biaya operasi lebih rendah. Satu pancing, satu ekor umpan pun itu menghemat biaya dibanding kita tebar seribu pancing, seribu ekor umpan. Tapi mungkin dapat tunanya cuma lima ekor,” terang Billahmar.

Siap-Siap, BSI (BRIS) Mau Terbitkan Sukuk Rp 3 Triliun

Tower Bank Syariah Indonesia (BSI). Istimewa

PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) berencana menerbitkan sukuk berkelanjutan lagi di semester I-2025. Plt. Direktur Utama BSI, Bob T. Ananta mengatakan jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp3 triliun, namun itu bergantung pada permintaan pasar.

Sebab, pada penawaran umum berkelanjutan (PUB) sukuk seri I tahun lalu, mengalami kelebihan permintaan hingga tiga kali. Maka, PUB sukuk seri II tahun ini nilainya paling tidak akan sama dengan tahun lalu yang sebesar Rp3 triliun.

“Series pertama tahun lalu oversubscribed 3 kali, nah ini series kedua, kita mungkin nanti akan segera publish launching, dan harapannya memang di semester satu ini.Kita bisa, kalau tahun lalu kan Rp3 triliun ya, tahun ini ya sekitar itu bisa lebih tergantung nanti demandnya seperti apa gitu ya, tapi paling enggak kemudian angkanya itu,” ungkap Bob selepas BSI Global Islamic Finance Summit, Ritz Carlton Pacific Place, Selasa (29/4/2025).

Ia mengatakan dana yang diperoleh rencananya akan digunakan untuk pembiayaan berkelanjutan yang mendukung Sustainable Development Goals (SDG).

“Penggunaannya karena ini konteksnya keuangan berkelanjutan, itu memang portfolio yang berkelanjutan SDG. Jadi untuk portfolio-portfolio yang sustainability finance,” ujar Bob.

Mengingatkan saja, BSI sebelumnya telah menerbitkan Sustainability Sukuk sebesar Rp3 triliun. Itu terbagi dalam tiga seri dengan imbal hasil berkisar antara 6,40-7,20% untuk jangka waktu 1, 2, dan 3 tahun. Masa penawaran awal dimulai sejak 14-30 Mei 2024.

Pemesanan Sukuk itu mencapai 300% atau sekitar Rp9 triliun. Dana hasil penerbitan sukuk yang diperoleh digunakan untuk mendukung pembiayaan dalam kategori Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) dan Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial (KUBS).

50% Kapasitas Pabrik Baja Nganggur, RI Dihantam Malapetaka Efek Trump

Tangkapan layar dari YouTube TV Parlemen, Senin (28/4/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Ismail Mandry mengungkapkan, kebijakan tarif tinggi yang ditetapkan Amerika Serikat (AS) terhadap produk baja impor, tidak secara langsung mengguncang industri baja nasional. Dia pun mengingatkan ada ancaman besar yang mengintai dari gelombang dumping komoditas baja asal China yang bisa menyerbu pasar Indonesia.

“Mengenai dampak daripada kebijakan AS terhadap industri baja, tidak terlalu terpengaruh terhadap industri baja (nasional), karena ekspor kami ke Amerika itu tidak lebih dari 1%,” kata Ismail dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi VII DPR RI, Senin (28/4/2025).

Meski demikian, ia menegaskan, dampak besar justru datang dari reaksi China terhadap kebijakan tersebut. Ismail menyebutkan, “Yang menjadi persoalan adalah dampak dari kebijakan AS terhadap pemerintah China. Ini yang menjadi persoalan besar untuk kami.”

Ia menjelaskan, industri baja nasional saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 50-60% kebutuhan domestik, dari total produksi baja nasional sekitar 17 hingga 18 juta ton per tahun. Dengan kapasitas produksi nasional yang masih “menganggur” hampir 50%, serbuan produk baja China bisa menjadi ancaman serius.

“Bayangkan kalau mereka nggak bisa ekspor ke Amerika. Kapasitas atau produk Cina di tahun 2023 sampai 2024 itu 1,2 miliar ton. Kita cuma 20 juta ton per tahun,” ujarnya.

Saat ditanya berapa besar ekspor baja China ke Amerika Serikat, Ismail menjawab, “Itu sampai 35% ekspor baja China ke AS.”

Menurutnya, angka ini sangat besar, sehingga jika pasar Amerika tertutup, China akan mencari pasar lain untuk membuang kelebihan produksinya, termasuk ke Indonesia.

“Kalau mereka tertutup, kemudian kita tidak melakukan proteksi terhadap industri baja di Indonesia, ini langsung kita kolaps,” tegasnya.

“Oleh sebab itu kami mengharapkan dalam pertemuan yang baik ini bagaimana kita memproteksi secara baik dan benar, sehingga industri kita ini tetap tumbuh,” sambungnya.

Pacu Konsumsi Domestik

Akbar juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi untuk melindungi industri dalam negeri. Ia menekankan, produk baja dalam negeri perlu lebih banyak digunakan, termasuk dalam proyek-proyek investasi baru di Indonesia.

“Seperti yang tadi saya sampaikan kita masih punya kapasitas 50% yang belum kita gali lebih dalam,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia memberikan contoh bagaimana kebijakan saat ini kadang malah merugikan industri lokal. “Di satu sisi kami butuh investasi. Di lain sisi seringkali investasi membangun di dalam negeri itu menggunakan master list, sehingga mereka membangun pabrik menggunakan industri baja dalam sebuah paket, tidak lagi menggunakan baja yang bisa diproduksi di dalam negeri,” keluh Akbar.

Menurutnya, situasi ini menciptakan paradoks, di mana investasi asing masuk besar-besaran, tetapi industri baja nasional hanya bisa menjadi penonton.

“Nah ini menjadi sangat perhatian besar di dalam menentukan regulasi saat bernegosiasi dengan BKPM,” tambahnya.

Ia menutup pernyataannya dengan permohonan agar pemerintah memperkuat perlindungan bagi industri baja nasional. “Itulah sebabnya kami mohon di kesempatan yang baik ini kami minta dilindungi, dengan cara mengatur regulasi yang tepat,” tandasnya.